22 jam Obama

…Ada beberapa hal menarik menyaksikan semua gerak Obama dari layar tv dalam ku dalam kunjungan 22 jamnya di Indonesia.

Ketika acara jamuan santap malam, seusai protokol acara membacakan basa-basinya, presiden Barack Obama kemudian berdiri meninggalkan kursinya dan berbisik ke SBY kemudian berjalan sendiri menyalami sebagian dari tamu undangan acara tersebut. Gelagat Obama sontak membuat SBY terlihat celingak celinguk melihat tingkah dari laki-laki keturunan Afro-America itu. “Ini khan tak ada dalam draft protokoler acara”, mungkin begitu pikir SBY.

Satu hal jelas yang diperlihatkan oleh Obama bahwa seorang presiden yang punya banyak hak, tidak harus kaku dan tunduk patuh mengikuti semua prosedur protokoler. Seorang presiden bisa dengan entengya melenggang sesuai konteks kejadian dimana presiden hadir.

Menyambung tulisan Yusran Darmawan (timurangin.blogspot.com) tentang bagaimana lebih tanggapnya para pembaca KOMPAS ketimbang negara dalam menyalurkan bantuan ke para pengungsi gunung Merapi. Menjadi bukti bagaimana jelimetnya urusan prosedur di negara ini meski untuk persoalan yang tingkatanya urgent. Ketika Merapi meletus, negara dalam kutip presiden tidak harus mengikuti semua rule hanya untuk penyaluran bantuan. Karena bagaimanapun juga aturan protokoler dibuat agar semuanya lancar bukan malah melamban.

SBY sepertinya mesti belajar banyak dari Obama tentang politik populer. Tanpa album lagu, tanpa nyanyi-nyanyi, Obama paham betul cara menggapai popularitas politik dengan senyum, lambaian tangan, bicara yang lugas dan tingkah laku yang tak kaku.
Read More

Rabu, 14 April 2010

Dari Gelanggang ke gelanggang

Setelah lama tak dinantikan, akhirnya, untuk kesekian kali gelar “tinju bebas” pun berlangsung. Dengan promotor yang sama, pertandingan mengambil tempat di gelanggang Tanjung Priok, Jakarta . Partai ini menghadirkan aparat negara di sebelah kanan ring sebagai juara bertahan versus warga yang berada di sebelah kiri.

Yang namanya pertandingan terkadang memang susah diramal, siapa yang akan muncul sebagai pemenang. Para analis sudah memprediksi namun, kenyataan di lapangan biasanya bertolak belakang dengan hasil itung-itungan di atas kertas. Dan kali ini, setelah beberapa kali berhasil mendominasi menyabet titel juara, satpol PP dan polisi pun tumbang oleh perlawanan sengit warga.

Hasil statistik yang dilansir oleh sebuah tv swasta menunjukkan 300 korban luka; 10 polisi, 66 satpol PP dan 54 warga (kabar terakhir 1 orang satpol PP tewas). Dari hasil ini, warga secara otomatis keluar sebagai pemenang denga menang KO mempertahankan makam dan memukul mundur ratusan satpol PP dan polisi dan menang TKO jumlah korban yang lebih sedikit.

Sengketa selalu menjadi sebab musabab terjadinya pertarungan ini, entah itu rumah, lahan dan sebagainya. Kenapa persitiwa seperti ini begitu sering terjadi? Tulisan ini tidak akan menjawab pertanyaan tersebut.

Akan tetapi, diluar pertanyaan itu, “keberhasilan” warga mempertahankan tanah makam Mbah Priuk sangat perlu diacungi dua jempol .Betapa tidak, dengan bermodalkan peralatan seadanya mereka berhasil memukul mundur aparat yang mempunyai persenjataan lebih lengkap, modern dengan standar keamanan tinggi.

Mungkin spirit, mungkin semangat, mungkin kepercayaan serta metafisis lainnya yang menjadikan warga begitu kuat mempertahankan lahan makam. Dan, tanpa ingin menafikan dan mengkerdilkan itu. Bisa jadi, dalam setiap ayunan tongkat/bambu dan lemparan batu warga adalah bentuk pelampiasan dari rasa frustrasi mereka terhadap kondisi negara ini.

Siapa yang tahu, seandainya, diantara para warga tersebut; Ada seorang bapak yang kini harus bingung mencari makan untuk anak-anaknya, sehabis di-PHK. Ada seorang yatim yang bersama ibunya tinggal di kolong jembatan karena rumah mereka telah digusur. Ada seorang alumni perguruan tinggi yang sudah lima tahun ini tak kunjung memperoleh pekerjaan. Ada seorang yang baru keluar dari penjara karena tertangkap mencuri untuk membiayai sekolah adiknya. Ada seorang yang menderita cacat ringan akibat pukulan aparat pada kerusuhan sebelumnya.

Pada akhirnya, yang korban adalah yang kecil. Bagaimanapun, seorang Satpol PP dan polisi hanya menjalankan perintah atasannya (menjalankan tugasnya) dan untuk menafkahi keluarganya di rumah. Sama halnya dengan warga yang menjadi lawan tandingnya.
Read more

Jumat, 05 Maret 2010

Tertawa Part 2

Siapa yang tak suka hiburan?atau, siapa yang suka program komedi Tv? konon, tertawa memang perlu menurut kesehatan. Dan tertawa sebaiknya yang ikhlas (dari dalam hati) agar berguna secara kejiwaan. Seorang teman pernah berhipotesa, tertawa yang baik ialah ketika tarikan kedua ujung bibir diukur dari tengah sama besarnya kiri dan kanan. Hal yang sama juga berlaku buat senyum, tambahnya.

Mungkin tak ada dari kita yang tidak mengenal komedi televisi, yang sampai hari ini hadir dengan berbagai kemasan dan jumlah kian banyak. Masih teringat jelas dalam kepala kita akan aksi dari group; warkop DKI, Bagito, Srimulat, dan lain-lain. Grup-grup ini timbul tenggelam, datang dan pergi, naik dan turun layaknya teori evolusi Darwini. Ada yang tersingkir karena usia, dan ada juga karena karakter lawakannya tidak laku. Komedi sendiri merupakan salah satu program “lahan basah” dalam industry pertelevisian. Jangan heran, jika hampir semua televise punya program lawakan.

Satu hal yang menjadi kemiripan dari dunia lawak indonesia dulu sampai sekarang ialah masalah content lawakannya. Yang biasanya diisi adegan mengerjai, hina menghina, sampai yang nyrempet ke arah birahi.

Salah satau program lawak yang kini lagi laku-lakunya ialah Opera Van Java. Dari yang awalnya tayangan perminggu sampai kini perhari, menunjukkan bahwa peminat acara ini tinggi. Sejarah adalah perulangan-perulangan kata …?(yang tahu, tolong isi). Dan, jadilah OVJ yang terkadang menjual makian, hinaan atau kekerasan. Faktanya, hampir semua orang pun tertawa jika menyaksikan tayangan tersebut. Beberapa orang malah, mengingat pasti jam penayangannya. Seorang teman pernah menegur teman lainnya lantaran di saat memindahkan channel dia melewati Opera Van Java.

Mengapa acara lawak yang model seperti ini biasanya mendapat tawa yang cukup keras sehingga dikatakan menghibur?

Dalam analisa sigmund Freud yang membuat kita tertawa terpingkal-pingkal ialah karena kita
memetik kepuasaan yang sifatnya instingtif dari aksi kekerasan, makian, hinaan yang dipertonkannya. Menurutnya, id yang sifatnya selalu destuktif akan selalu direpresif oleh yang namanya superego. Maka, dengan adanya lawakan yang terjadi kemudian adalah perkara menyelinap mengelabui superego. Atau, dengan kata lain bahwa ini adalah soal menghindari sensor superego.

Lagi-lagi, menurut Freud tiap manusia punya naluri untuk melakukan tindakan kekerasan, mencaci maki atau menghina. Namun, karena ada seperangkat sistem sosial diluar diri manusia maka hal seperti itu pun ditekan. Jadi, ketika hal itu dipertontonkan dan kita tertawa. Maka tawa tersebut adalah sublimasi dari sifat instingtif yang pada dasarnya destruktif.
Read more

Tertawa part 1

Kita tak pernah dewasa, demikian penggalan lirik dari Efek Rumah Kaca yang sekaligus bisa dilihat sebagai sebuah konklusi dari band tersebut. Sebuah hasil refleksi atas maraknya video porno produksi anak bangsa.

Kira-kira 2 minggu lalu, dalam sebuah program TV yang “kerjanya” kurang lebih sama seperti mak comblang. Pada sebuah session dari acara tersebut, oleh Mc, satu pasangan diminta untuk berakting. Si perempuan pun merengek-rengek dan si laki-laki berlagak orang gagap atau cacat atau kombinasi dari keduanya. Spontan saja, acting kedua pasangan ini mendapat tepukan tangan dari penonton, terutama untuk acting si laki-laki.

Beradegan cacat, baik itu mental dan fisik memang terkadang menjadi akting dagangan paling yahud di layar Tv Indonesia. Acting ini pun tak tanggung-tanggung muncul hampir dalam semua acara Tv baik itu lawakan, film bahkan sampai dalam film. Dan, biasanya si pameran cacat tersebut mendapat apresiasi yang besar. Tengok saja sinetron “Si Cecep” dimana Anjasmara pernah mendapat piala apa untuk aktingnya. Atau tengok saja Azis, yang kebanjiran mangung serta rela menambahkan nama belakangnya sesuai dengan aktingnya.

Televisi adalah industri dan yang namanya industri sudah takdirnya untuk meraup keuntungan.Naïf jika tidak berpikir seperti itu, dan jadilah televisi yang memperjualbelikan apa saja demi rating, demi iklan dan demi uang. Mulai dari produk kemiskinan, produk air mata, sampai produk manusia cacat pun tak luput. Tak peduli, bagaimana perasaan si penyandang cacat ketika menyaksikan apa yang tidak pernah dimintanya menjadi bahan tertawaan. Dan lucunya, penonton pun ikut larut dalam “dagelan” Televisi.

Hampir sama dengan dunia layar Tv, dunia keseharian kita pun tak luput dari praktek konsumsi menertawai orang yang tidak beruntung tersebut. Menertawai seolah dengan fisik sempurna, kita lebih manusia. Menertawai dan lupa bahwa manusia tidak diukur dengan apa yang kita punya. Menertawai dan lupa bahwa ada yang lebih penting dari tampakan lahiriah, ada substansi diatas wilayah aksiden, ratio lebih penting ketimbang fisik. Dan, inilah manusia yang katanya modern ini.Sama dengan jawaban Muse, ketika ditanya mengenai maksud dari konsep video klip lagu Supermassive Black Hole. Kita menertawai dan menafikan fakta sejarah peradaban manusia dimana, ada zaman dimana orang dengan fisik yang tak sempurna pernah menjadi orang yang sangat berpengaruh bahkan punya sumbangsih yang besar. Lihat saja Adolf Hitler, atau Friedrich Wilhelm Nietzsche.

Kalau tertawa adalah sebuah budaya, kata para alih-alih Cultural Studies dan bagi mereka serta para pakar Postmodernisme tak ada budaya tinggi dan budaya rendah. Mungkin, akan dewasalah kita jika, mengatakan bahwa menertawai segala kecacatan fisik seseorang adalah sebuah budaya rendah!
Read more

Sabtu, 02 Januari 2010

Kado Natal

“Uh! kutendang kerikil itu dengan geram”. Bagaimana aku tidak marah, aku tidak diberikan kado dari ibu dan bapak saat natal nanti tapi, aku pasrah saja.

Waktu terus berputar, pada sore hari aku dan teman-teman pergi bermain bola. Disana kami asyik bermain sepak bola sampai akhirnya kami beristirahat . “Wah..., saat natal nanti kayaknya orangtuaku memberikan sepeda baru,kata Fartin”. “Kalau kamu Ayu?”, kata Fartin. Dengan tergesa -gesa, Ayu menjawab “kalau saya, kayaknya diberikan tas baru”.
“Kalau, kamu Ike'?” tanya fartin lagi. “Kalau saya m..........., ayo jawab, seru Fartin! kayaknya m.........., sepatu baru, ya sepatu baru”, jawabku. “o........., sepatu baru kata Ayu dan Fartin dengan serempak.
Aku terpaksa berbohong karena tidak mau Fartin dan Ayu menertawaiku kalau tahu bahwa sebenarnya, aku tidak akan mendapat kado natal nantinya.


Natal pun tiba saya,Fartin dan Ayu ingin ke gereja. Disana, ada santa claus dan pit hitam yang mengerikan. Akhirnya, namaku disebut oleh santa, EUNIKE KRISESI SOSANG. “Kesini... ,santa ingin memberikan hadiah, seru santa claus”. “Ini dari santa dan orang tua kamu”, santa pun memberikan aku hadiah. Aku membukanya dan isinya sepatu ternyata, aku senang sekali dan langsung memeluk santa dengan erat.

Setelah itu, aku kemudian berlari menuju bapak dan ibu. “Katanya aku tidak akan diberikan hadiah natal, tanyaku sama mereka. Bapak membohongi saya, tanyaku lagi”.
“Ya ia nak ,karena bapak ingin memberikan kejutan buat anak perempuan semata wayang bapak, timpal bapakku. “Terima kasih ya papa, seruku. “Ia, jangan nangis anak bapak kan tidak cengeng.


* Tulisan ini dibuat oleh Eunike Krisesi Sosang









* Tulisan ini telah melalui proses pengeditan
Read more

Jumat, 04 Desember 2009

Kiamat

Jauh hari sebelum dirilis, saya sempat membaca beberapa artikel tentang film berjudul 2012. Suatu film yang juga mengangkat tema tentang kiamatnya dunia. Seakan coba memuaskan keingintahuan manusia tentang bagaimana prosesnya berakhirnya peradaban ini, tema tentang kiamat telah sering diangkat ke layar kaca. Mulai dari Armageddon, The Day After Tomorrow sampai yang lokal seperti Kimat Sudah Dekat. Namun, film yang satu ini berbeda karena kalau ndak salah baca, film ini dikait-kaitkan dengan ramalan suku maya.

Sampai detik ini pun, saya sendiri belum menonton film besutan sutradara Roland Emmerich tersebut. Akan tetapi, beberapa hari belakangan ini kabar seanter film yang dirilis 13 November lalu di Amerika itu, telah beredar dimana-mana menjadi salah topik dalam pembicaraan. Kabar terakhir dari seorang teman, beberapa ulama MUI telah mengharamkan film produksi Columbia Pictures ini. Saya tak bermaksud melawan fatwa MUI ini, tapi satu yang jelas apapun alasan beberapa ulama tersebut mengelurkan fatwa terhadap 2012, ini justru menambah kontroversi. Dan menambah kontrovesi, bisa saja kemudian menambah daya jual suatu produk. Para arsistektur pemasaran dan iklan tidak perlu lagi mengeluarkan budget besar untuk promosi karena meraka secara tidak langsung telah sangat terbantu dengan fatwa MUI tersebut. Jadi, jangan heran ketika film tersebut telah meraih sekitar 225 juta US$.

Entah karena pengaruh media atau MUI, di tengah masyarakat sendiri banyak terjadi pembicaran bahkan sudah sampai pada level penilaian akan tema yang diusung oleh 2012. Teman yang lain pernah bercerita, bahwa seorang bapak yang tinggal bertetangga dengannya, pernah mengumpat “tidak mungkin mi itu kiamat 2012!” Ya iyalah pak, terang saja bapak bilang gak mungkin mi, karena bapak merujuk ke agama yang bapa anut, ke kitab yang bapak percayai dan kemudian menilai ramalan suku maya tersebut. Gak mungkin ketemulah, atau gak fairlah kata orang dari dunia olahraga. Lagian, kalau misalnya 2012 memang nantinya kiamat, bagaimana pak?

Sementara, dalam kepercayaan agama semawi punya pemaknaan yang mirip akan kiamat, lengkap dengan tanda-tanda akan datangnya kiamat, bagaimana kehidupan setelah kiamat atau siapa utusan Tuhan ketika kiamat telah datang. Dan kebanyakan agama semawi juga meng-amini bahwa semua ini adalah misteri sang pencipta.

Beberapa hari yang lalu, ketika melintas ditengah orang yang lagi kong kow (nongkrong), salah seorang dari mereka kemudian nyeletuk “kenapa na susah sekali jaringannya te....sel ini? mw betulan kapang kiamat ?” Yang lain kemudian balas menyahut dengan sedikit ketawa ketiwi “io, 2012”.Akhir-akhir ini, membicarakan kiamat memang akan selalu dikaitkan dengan film 2012.

Dalam abad yang menurut, para alih-alih cultural studies adalah abadnya gaya hidup, manusia-manusia modern pun punya pemaknaan sendiri akan kehidupan. Ketika mereka kemudian berenang-renang ria dalam arus konsumsi dan segala simbol-simbol kemodernan hidup, kiamat pun diartikan berbeda. Jika, kemudian orang yang menandai kiamat karena jaringan yang rusak. Maka, bisa dimaklumi bahwasanya orang tersebut berada pada posisi dimana, bagi dia komunikasi lewat telpon seluler adalah segalanya dan segalanya adalah telpon seluler. Maka, jika jaringan kemudian bermasalah maka kiamatlah dunia ini bagi dia, tidak ada lagi yang bisa dimanfaatkan dari dunia ini, eksistensinya sebagai manusia pun hilang bersamaan dengan hilangnya jaringan.

Sama halnya dengan orang yang kecanduan game, kecanduan belanja, kecanduan sms, kecanduan seks, kecanduan fesbuk dan kecanduan-kecanduan lainnya, yang bagi kaum agawamawan adalah hal-hal yang sifatnya duniawi. Ketika kecanduan ini kemudian tak dapat dikontrol lagi, dan pada suatu waktu kecanduan ini tak dapat disalurkan maka kiamat lah dunia ini baginya. Setidaknya kiamat kecil bagi dirinya sendiri.
Read more

Sabtu, 31 Oktober 2009

Weee...dicuekin

“Teknologi itu ibarat pisau bermata dua” begitulah ungkapan basi tapi, masih sangat relevan untuk kondisi hari ini, bahkan untuk hari esok. Kalo gak salah, ungkapan ini ingin mengingatkan bahwa tekonolgi jika tidak dimanfaatkan pada tempatnya bisa menjadi bumerang pada manusia sendiri.

Dewasa ini, internet bukan lagi menjadi barang mahal atau mewah, berbeda di tahun-tahun 90-an. Setiap orang kini mudah untuk mengaksesnya tanpa mengenal status sosial, meski hanya untuk berfesbuk ria.

Di makassar, bertambahnya jumlah warnet, menjamurnya warung kopi serta kantor dan kampus yang sudah dilengkapi fasilitas wifi menjadi petanda bahwa internet telah menjadi sesuatu yang paling diburu oleh masyarakat. Hal ini pulalah yang menjadikan penjualan laptop laris manis. Saking larisnya barang yang satu ini, kini bisa didapatkan dengan harga 3 juta untuk jenis netbook.

Di salah satu warung kopi, seorang perempuan duduk bersama seorang laki-laki dengan sebuah laptop. Posisi laptop sendiri berada tepat di depan si laki-laki, dan si perempuan hanya ditemani segelas minuman ringan. Si laki-laki terlihat sangat serius memperhatikan “kotak ajaib” di depannya itu tanpa pernah memperhatikan yang disampingnya. Yang namanya “screen” memang punya kekuatan magis untuk menarik kita terus memperhatikan tanpa kedipan mata sekalipun, dari yang namanya tv, bioskop sampai laptop.

Selang beberapa waktu si laki-laki masih saja sibuk mengutak-ngatik laptop di didepannya. Sedangkan, si perempuan duduk terdiam mirip patung tanpa ekspresi apapun. Hampir tak ada obrolan pun diantara mereka. Pemandangan ini sendiri bukan sekali saja bagi saya, banyak teman pun pernah menceritakn kejadian serupa. Bahkan seorang teman pernah mendapati yang katanya sih, yang cowok itu “jelek” dan yang si cewek itu “cakep”. Dia malah sempat kepikiran untuk meminjamkan laptopnya sambil berandai-andai agar si cewek bisa jatuh kedalam pelukannya. Uakakakakak....
“Iya kalo laptopnya milik si cowok? tapi kalo milik si cewek?...wah rusak juga itu si cowok” kata seorang teman lainnya.

Benar sih yang namanya realitas itu sampai sekarang ini masih diperdebatkan, banyak buku dan banyak orang pun mengahabiskan hidupnya hanya untuk merumuskan, apa sih itu realitas. Kalo mengacunya yang ke aliran empiris sih, realitas itu yang ter indra i. Sama halnya dengan si perempuan yang ada di samping si laki-laki itulah realitas karena segala indra pun bisa mengecapnya. Beda dengan pancaran teks dan grafik oleh laptop itu yang hanya mampu diliat tok!

Dengan melihat rentetan kejadian ini , secara sepihak bisa dibilang teknologi telah menjadi bumerang. Teknologi telah mengalienasi si laki-laki dan meninggalkan si perempuan dibelakang sendiri. Lagian, kalo mo ditimbang-timbang toh perempuan itu lebih dekat dengan diri si laki-laki dibanding semua yang ada dalam screen laptop itu.Entah apa yang diliatnya dalam layar tersebut, mungkin febsbuk. Dan kalo memang fesbuk maka, benar kata teman saya. Di fesbuk kau bisa mendapatkan teman baru akan tetapi, dibayar dengan mengorbankan teman lamamu.uahahahahahahaha.....

Entahlah, ini hanya konklusi awal dengan hanya melihat seraya memperhatikan ekspresi dan bisa jadi tendensius. Siapa tau,keduanya memang adalah orang yang pendiam, atau keduanya telah menyepakati aturan, bahwa siapapun yang pegang laptop, yang lain diharamkan untuk mengganggu. Entahlah...
Read more
 

LINGKA Design by Insight © 2009