Rabu, 10 November 2010

22 jam Obama

…Ada beberapa hal menarik menyaksikan semua gerak Obama dari layar tv dalam ku dalam kunjungan 22 jamnya di Indonesia.

Ketika acara jamuan santap malam, seusai protokol acara membacakan basa-basinya, presiden Barack Obama kemudian berdiri meninggalkan kursinya dan berbisik ke SBY kemudian berjalan sendiri menyalami sebagian dari tamu undangan acara tersebut. Gelagat Obama sontak membuat SBY terlihat celingak celinguk melihat tingkah dari laki-laki keturunan Afro-America itu. “Ini khan tak ada dalam draft protokoler acara”, mungkin begitu pikir SBY.

Satu hal jelas yang diperlihatkan oleh Obama bahwa seorang presiden yang punya banyak hak, tidak harus kaku dan tunduk patuh mengikuti semua prosedur protokoler. Seorang presiden bisa dengan entengya melenggang sesuai konteks kejadian dimana presiden hadir.

Menyambung tulisan Yusran Darmawan (timurangin.blogspot.com) tentang bagaimana lebih tanggapnya para pembaca KOMPAS ketimbang negara dalam menyalurkan bantuan ke para pengungsi gunung Merapi. Menjadi bukti bagaimana jelimetnya urusan prosedur di negara ini meski untuk persoalan yang tingkatanya urgent. Ketika Merapi meletus, negara dalam kutip presiden tidak harus mengikuti semua rule hanya untuk penyaluran bantuan. Karena bagaimanapun juga aturan protokoler dibuat agar semuanya lancar bukan malah melamban.

SBY sepertinya mesti belajar banyak dari Obama tentang politik populer. Tanpa album lagu, tanpa nyanyi-nyanyi, Obama paham betul cara menggapai popularitas politik dengan senyum, lambaian tangan, bicara yang lugas dan tingkah laku yang tak kaku.

2 comments:

luvori mengatakan...

wahh... saya suka themes barunya blogta'.... (sowry OOT dari postingannya..)

LingkaLingka to mame mengatakan...

suka dengan laman ini

 

LINGKA Design by Insight © 2009